Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Diantara Rindu dan Ikhlas - Bab 3

Novel Diantara Rindu dan Ikhlas, Oleh: Machrup Eko Cahyono 

Bab 3: Jarak yang Tak Terlihat

Hari pertama yang seharusnya terasa baru justru membawa Alya kembali ke titik yang sama—tempat di mana ia belum benar-benar selesai.


Ia duduk di meja kerjanya, menatap layar laptop yang sejak tadi hanya menampilkan dokumen kosong. Kursor berkedip pelan, seolah ikut menunggu sesuatu yang tak kunjung datang.

Fokusnya hilang.

Pikirannya terus kembali ke satu hal: Arka.

Bukan hanya karena mereka bertemu lagi, tapi karena cara Arka bersikap—terlalu tenang, terlalu biasa. Seakan semua yang pernah terjadi di antara mereka hanyalah bagian kecil yang mudah dilupakan.

“Alya?”

Suara Rina membuatnya tersadar. Ia segera mengalihkan pandangan.

“Hah? Iya?”

“Kamu dari tadi bengong. Deg-degan ya hari pertama?” Rina tersenyum menggoda.

Alya memaksakan senyum. “Iya… sedikit.”

Rina duduk di sampingnya. “Santai aja. Semua juga dulu gitu kok. Nanti juga terbiasa.”

Alya mengangguk, tapi dalam hatinya ia tahu ini bukan soal pekerjaan baru.

Ini tentang masa lalu yang tiba-tiba kembali berdiri di hadapannya.

“Eh, nanti siang kita meeting sama Pak Arka,” lanjut Rina.

Kalimat itu seperti menekan sesuatu di dada Alya.

“Meeting?” ulangnya pelan.

“Iya, briefing project baru. Kamu juga harus ikut biar cepat paham alurnya.”

Alya menelan ludah. Tidak ada cara untuk menghindar.

“Hmm… oke.”

Ruang meeting itu tidak terlalu besar, tapi cukup untuk membuat Alya merasa sesak.

Ia duduk di salah satu kursi, berusaha terlihat sibuk dengan catatan di depannya. Padahal yang sebenarnya ia lakukan adalah menyiapkan diri—meski ia sendiri tidak tahu untuk apa.

Pintu terbuka.

Arka masuk.

Langkahnya tenang, ekspresinya datar. Ia langsung berdiri di depan, membuka laptop, dan mulai menjelaskan materi seperti tidak ada hal lain yang mengganggu pikirannya.

Profesional. Jelas. Terstruktur.

Dan… jauh.

Alya mencoba fokus. Ia benar-benar berusaha mendengarkan. Tapi setiap kali suaranya terdengar, ada sesuatu di dalam dirinya yang bergetar.

Suara itu masih sama.

Suara yang dulu pernah menjadi tempat paling nyaman untuk pulang.

“Alya?”

Namanya disebut.

Ia tersentak, langsung menoleh.

“Menurut kamu, bagian ini bisa dikembangkan ke arah mana?” tanya Arka sambil menunjuk layar.

Semua mata tertuju padanya.

Alya terdiam beberapa detik. Bukan karena ia tidak tahu jawabannya, tapi karena ia tidak siap mendengar namanya keluar dari mulut Arka—lagi.

Ia menarik napas, mencoba menenangkan diri.

“Kalau… dari sudut pandang target audiens,” ucapnya pelan, “mungkin bisa ditambahkan pendekatan yang lebih personal. Supaya… lebih terasa dekat.”


Arka menatapnya. Kali ini sedikit lebih lama.

Lalu ia mengangguk. “Masuk akal.”

Hanya itu.

Tidak ada tambahan. Tidak ada reaksi lain.

Tapi entah kenapa, satu kalimat itu cukup membuat hati Alya terasa semakin rumit.

Meeting berlanjut seperti biasa. Diskusi berjalan, ide-ide saling bertukar. Semua tampak normal.

Kecuali Alya.

Ia merasa seperti berada di dua waktu sekaligus—masa kini yang memaksanya untuk tetap berdiri, dan masa lalu yang terus menariknya untuk kembali.

Setelah meeting selesai, orang-orang mulai keluar dari ruangan. Alya mengemasi barangnya perlahan, berharap bisa keluar tanpa harus berhadapan langsung dengan Arka.

Namun harapan itu tidak bertahan lama.

“Alya.”

Langkahnya terhenti.

Suara itu—lebih dekat sekarang.

Ia berbalik.

Arka berdiri tidak jauh darinya.

Untuk pertama kalinya sejak pertemuan tadi pagi, mereka benar-benar berhadapan… tanpa orang lain di sekitar.

Sunyi.

“Apa kabar?” tanya Arka akhirnya.

Pertanyaan sederhana. Terlalu sederhana untuk semua hal yang pernah mereka lalui.

Alya tersenyum tipis. “Baik.”

Jawaban yang sama. Lagi.

Arka mengangguk pelan. “Bagus.”

Hening kembali jatuh di antara mereka.

Ada begitu banyak hal yang ingin Alya tanyakan. Kenapa Arka pergi. Kenapa tidak ada penjelasan. Kenapa sekarang ia bersikap seolah tidak pernah terjadi apa-apa.

Tapi tidak satu pun berhasil keluar.

Karena di saat yang sama, ia takut dengan jawabannya.

“Aku… nggak tahu kamu akan kerja di sini,” ujar Arka akhirnya.

Alya menunduk sejenak. “Aku juga.”

Satu lagi jeda.

“Kalau begitu… kita sama-sama kaget,” lanjut Arka, mencoba terdengar ringan.

Alya mengangguk kecil.

Namun di dalam hatinya, ini bukan sekadar kaget.

Ini adalah pertemuan dengan sesuatu yang belum selesai—yang selama ini ia coba kubur dalam diam.

“Alya,” panggil Arka lagi, kali ini suaranya sedikit lebih pelan.

Alya menatapnya.

Dan untuk sesaat, dinding yang tadi ia bangun terlihat retak.

“Aku harap… kita bisa tetap profesional di sini.”

Kalimat itu jatuh pelan, tapi terasa berat.

Seperti garis yang sengaja ditarik—jelas, tegas, dan tidak memberi ruang untuk kembali.

Alya menahan napas.

Lalu mengangguk.

“Iya.”

Hanya itu yang bisa ia katakan.

Karena di antara rindu yang masih ada… ia mulai belajar satu hal:

Bahwa tidak semua yang pernah dekat, bisa kembali seperti dulu.


Post a Comment for "Diantara Rindu dan Ikhlas - Bab 3"