Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Diantara Rindu dan Ikhlas - Bab 2

Novel Diantara Rindu dan Ikhlas, Oleh: Machrup Eko Cahyono

Bab 2: Pertemuan yang Tak Direncanakan

Gedung itu terasa terlalu besar untuk langkah pertama yang masih ragu.

Alya berdiri sejenak di depan pintu masuk, memperhatikan orang-orang yang keluar masuk dengan wajah yakin—seolah mereka tahu persis ke mana arah hidup mereka. Berbeda dengan dirinya yang masih membawa sisa-sisa masa lalu di dalam dada.


“Lya!”

Suara itu memecah lamunannya. Alya menoleh dan mendapati Rina melambaikan tangan dari dalam lobby. Senyum hangatnya seperti biasa—terlalu tulus untuk diabaikan.

“Kamu lama banget sih,” ujar Rina setengah mengeluh saat Alya mendekat.

“Macet,” jawab Alya singkat, meski mereka berdua tahu itu bukan alasan sebenarnya.

Rina menatapnya beberapa detik, seolah ingin memastikan sesuatu. “Kamu nggak apa-apa, kan?”

Alya mengangguk cepat. “Aku baik-baik saja.”

Jawaban yang terlalu sering ia gunakan, sampai ia sendiri hampir percaya.

“Ya sudah, ayo. Aku kenalin kamu ke tim,” kata Rina sambil menarik pelan tangan Alya.

Mereka berjalan menyusuri koridor yang panjang, melewati deretan meja kerja dan suara keyboard yang bersahutan. Dunia baru yang sibuk, cepat, dan tidak memberi ruang bagi orang yang ingin berhenti sejenak untuk mengingat masa lalu.

“Teman-teman,” ujar Rina dengan suara cukup lantang, “ini Alya, mulai hari ini dia gabung di tim kita.”

Beberapa orang menoleh, tersenyum ramah, dan menyapa singkat. Alya membalas dengan senyum tipis, mencoba terlihat se-normal mungkin.

Namun langkahnya terhenti saat matanya menangkap sesuatu di ujung ruangan.

Seseorang berdiri di dekat jendela, membelakangi mereka. Posturnya tinggi, dengan kemeja yang digulung sampai siku. Tangannya terlipat, seolah sedang berpikir tentang sesuatu yang berat.

Entah kenapa, jantung Alya tiba-tiba berdebar lebih cepat.

“Eh, itu dia,” bisik Rina, “atasan baru kita. Kebetulan banget kamu datang hari ini, sekalian kenalan.”

Alya tidak langsung merespons. Ada perasaan aneh yang sulit dijelaskan—seperti deja vu yang datang tanpa diundang.

“Pak,” panggil Rina.

Laki-laki itu perlahan berbalik.

Dan dunia Alya seperti berhenti.

Arka.

Nama itu langsung memenuhi pikirannya, tanpa jeda, tanpa ragu.

Wajah itu—meski sedikit berubah, meski kini terlihat lebih dewasa dan tenang—tetap sama. Mata yang dulu pernah menatapnya dengan begitu hangat, kini menatapnya kembali… tapi terasa jauh.

Untuk beberapa detik, tidak ada suara. Tidak ada gerakan.

Hanya dua orang yang dipaksa waktu untuk bertemu lagi, di tempat yang sama sekali tidak mereka rencanakan.

“Ini Alya, anggota baru di tim kita,” lanjut Rina, tidak menyadari apa yang sedang terjadi.

Arka menatap Alya sedikit lebih lama dari yang seharusnya. Ada sesuatu yang melintas di matanya—terkejut, mungkin. Atau… sesuatu yang belum selesai.

Namun detik berikutnya, ekspresi itu hilang. Berganti dengan sikap profesional yang rapi dan dingin.

“Selamat bergabung,” ucapnya singkat.

Tidak ada senyum. Tidak ada kehangatan.

Seolah mereka benar-benar orang asing.

Alya membuka mulut, ingin mengatakan sesuatu. Apa saja. Tapi tidak ada kata yang berhasil keluar. Semua kalimat yang pernah ia bayangkan selama bertahun-tahun… lenyap begitu saja.

“Terima kasih,” akhirnya ia menjawab pelan.

Suasana kembali berjalan seperti biasa. Percakapan berlanjut, orang-orang kembali bekerja. Dunia kembali bergerak.

Tapi tidak dengan Alya.

Di dalam dirinya, semuanya kembali berantakan.

Ia tidak pernah membayangkan pertemuan ini. Tidak pernah menyiapkan diri untuk melihat Arka lagi—apalagi dalam jarak sedekat ini.

Dan yang lebih menyakitkan bukanlah kenyataan bahwa Arka ada di hadapannya.

Melainkan cara Arka menatapnya…

Seolah ia sudah benar-benar pergi.


Post a Comment for "Diantara Rindu dan Ikhlas - Bab 2"