Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Diantara Rindu dan Ikhlas - Bab 1

Novel: Diantara Rindu dan Ikhlas, Oleh: Machrup Eko Cahyono

Bab 1: Kota yang Menyimpan Namamu

Pagi itu, langit masih setengah ragu untuk benar-benar cerah. Awan tipis menggantung, seolah ikut menahan sesuatu yang belum selesai. Alya berdiri di halte kecil dekat jalan yang mulai ramai, memeluk tasnya erat—kebiasaan yang muncul setiap kali pikirannya terlalu penuh.


Sudah tiga tahun sejak semuanya berubah. Tiga tahun sejak Arka pergi tanpa kata yang cukup untuk menjelaskan. Namun anehnya, waktu seperti hanya berjalan di luar dirinya. Di dalam, semuanya masih terasa sama—seperti kemarin sore ketika mereka terakhir duduk berdampingan, membicarakan hal-hal sederhana yang kini justru menjadi kenangan paling berat.

Sebuah bus berhenti di depannya. Pintu terbuka dengan suara berderit pelan. Alya melangkah masuk, memilih kursi dekat jendela. Ia selalu memilih tempat itu—entah sejak kapan. Mungkin karena dari sana, ia bisa berpura-pura melihat dunia bergerak, padahal yang sebenarnya ia lakukan adalah kembali ke masa lalu.

Jalanan kota pagi itu dipenuhi kesibukan. Orang-orang bergegas, kendaraan saling mendahului, suara klakson bersahutan. Semua tampak hidup. Hanya Alya yang merasa tertinggal.

Pandangannya berhenti pada sebuah sudut jalan—tempat yang sangat ia kenal. Kafe kecil dengan papan nama yang mulai pudar. Tanpa sadar, napasnya tertahan.

Di sanalah semuanya dimulai.

“Kalau kamu disuruh milih, kamu lebih suka kopi pahit atau yang manis?”

Suara itu masih jelas di ingatannya.

Alya menoleh waktu itu, sedikit heran karena pertanyaan itu datang dari seseorang yang bahkan belum ia kenal. Seorang laki-laki dengan senyum yang terlalu santai untuk ukuran orang asing.

“Kenapa nanya ke saya?” tanyanya balik.

“Karena kamu kelihatan seperti orang yang punya jawaban menarik,” jawabnya ringan.

Alya sempat mengernyit, lalu tersenyum kecil. “Pahit. Biar jujur.”

Laki-laki itu tertawa pelan. “Berarti kamu berani.”

“Berani apa?”

“Berani nerima kenyataan tanpa ditambah pemanis.”

Alya tidak menjawab. Tapi sejak percakapan sederhana itu, sesuatu seperti mulai bergerak pelan di dalam dirinya—sesuatu yang tak ia sadari akan menjadi begitu besar.

“Namaku Arka,” katanya, mengulurkan tangan.

“Alya.”

Dan sejak hari itu, semuanya berubah.

Bus kembali melaju, menjauh dari kafe itu. Alya memejamkan mata sejenak. Kenangan memang tidak pernah meminta izin untuk datang. Ia muncul begitu saja, membawa ulang perasaan yang seharusnya sudah usai.

Alya menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri. Ia sudah terlalu sering terjebak dalam putaran yang sama—mengingat, merindukan, lalu mencoba mengikhlaskan, tapi tidak pernah benar-benar berhasil.

Ponselnya bergetar pelan. Sebuah pesan masuk.

“Alya, kamu jadi datang hari ini, kan? Aku sudah di kantor dari tadi.”

Pesan dari Rina, sahabatnya yang selalu berusaha menariknya kembali ke dunia nyata.

Alya menatap layar itu beberapa detik sebelum membalas singkat.

“Iya, bentar lagi sampai.”

Ia memasukkan ponselnya kembali ke dalam tas. Hari ini seharusnya menjadi awal baru. Pekerjaan baru, lingkungan baru, dan mungkin… kesempatan baru untuk benar-benar melepaskan masa lalu.

Namun di sudut hatinya, Alya tahu satu hal yang belum berubah:

Ia masih menyimpan Arka—di tempat yang bahkan waktu pun belum mampu menjangkaunya.

Bus berhenti. Alya berdiri, melangkah turun, dan menatap gedung di depannya. Tinggi, megah, dan terasa asing. Ia menarik napas dalam-dalam, seolah sedang mengumpulkan keberanian.

“Mulai hari ini,” gumamnya pelan, “aku harus belajar benar-benar pergi.”

Tapi jauh di dalam dirinya, sebuah suara kecil berbisik:

Bagaimana kalau yang belum selesai… tidak pernah benar-benar bisa ditinggalkan?


Post a Comment for "Diantara Rindu dan Ikhlas - Bab 1"