Menggapai Bintang di Langit Trenggalek - Bab 2

Menggapai Bintang di Langit Trenggalek
Bab 2 – Gadis Kecil Bernama Lintang
Mentari pagi berikutnya muncul perlahan di ufuk timur, menyelimuti
desa Trenggalek dengan warna keemasan yang hangat. Lintang bangun lebih pagi
dari biasanya, rasa penasaran dan semangat semalam masih membekas di hatinya.
Ia menatap langit yang mulai terang sambil mengingat malam di puncak bukit
Panggul. Ribuan bintang yang berkelip masih terasa hidup di pikirannya, seolah
memanggilnya untuk terus bermimpi.
Lintang bukanlah anak desa biasa. Sejak kecil, ia sudah terbiasa
memandangi langit malam sambil bertanya-tanya tentang dunia di luar desanya.
Setiap malam, ia duduk di teras rumah kayunya, membayangkan petualangan jauh
dari sawah, bukit, dan hutan yang selalu menjadi teman setianya. Ibunya sering
tersenyum melihat anaknya yang tampak serius menatap bintang. “Lintang, jangan
terlalu melamun, nak. Makan dulu,” kata ibu sambil menyodorkan sepiring nasi
hangat. Lintang hanya tersenyum tipis, matanya tetap terpaku ke jendela, ke
arah bukit Panggul yang terlihat samar di kejauhan.
Hari itu sekolah berjalan seperti biasa. Lintang menyapa
teman-temannya dengan senyum hangat, tapi ada rasa berbeda di dalam dirinya. Ia
merasa lebih percaya diri, lebih berani, dan lebih ingin tahu. Di kelas, guru
sejarah mereka, Pak Arif, memulai pelajaran tentang sejarah Trenggalek. Lintang
mendengarkan dengan seksama, bukan hanya karena pelajarannya menarik, tapi
karena ia ingin memahami tempatnya sendiri, akar desanya, dan kehidupan yang
membentuknya.
Saat istirahat, Lintang duduk di bawah pohon trembesi yang sama
seperti kemarin. Di sebelahnya, Raka duduk sambil menyiapkan buku catatan untuk
kegiatan malam nanti. “Lintang, tadi malam aku lihat peta bintang. Kita bisa
mulai menandai bintang-bintang yang gampang terlihat dulu,” kata Raka penuh
semangat. Lintang menatapnya, matanya berbinar. “Aku ingin belajar semua
konstelasi, Rak. Aku ingin tahu semuanya,” jawabnya dengan yakin.
Di antara suara teman-teman yang sedang bermain, Lintang tampak
berbeda. Ada aura tekad di wajahnya. Beberapa teman memandangnya heran. Mereka
sudah terbiasa melihatnya pendiam, tapi sekarang, Lintang tampak lebih hidup,
lebih berani menunjukkan siapa dirinya. Ia tersenyum kecil pada teman-teman
yang menatapnya, lalu kembali fokus pada buku catatannya.
Sepulang sekolah, Lintang berjalan pulang melewati sawah yang masih
hijau dan jalan setapak berbatu. Setiap langkahnya terasa ringan, tapi
pikirannya sibuk membayangkan malam nanti. Ia ingin mencatat lebih banyak,
ingin belajar lebih banyak, dan ingin melihat dunia dari perspektif yang
berbeda. Saat melewati sungai kecil di pinggir desa, ia berhenti sejenak untuk
melihat air yang berkilau diterpa sinar senja. Refleksi matahari di permukaan
air membuatnya tersadar bahwa setiap langkah kecilnya bisa membawa perubahan
besar.
Di rumah, Lintang membantu ibunya menyiapkan makan malam. Ia
belajar tentang tanggung jawab, tentang kerja keras, dan tentang pentingnya
keluarga. Ayahnya datang dari sawah dengan wajah yang lelah tapi tersenyum
hangat. “Lintang, aku dengar kamu dan Raka mau naik bukit lagi malam ini,” kata
ayah sambil meletakkan sabitnya. Lintang mengangguk. “Iya, Pak. Aku ingin
melihat bintang lagi.” Ayahnya tersenyum, lalu menepuk kepalanya. “Ingat, nak.
Keberanian itu penting, tapi jangan sampai lupa pulang tepat waktu.” Lintang
tersenyum, hatinya penuh rasa hormat dan cinta pada orang tuanya.
Malam menjelang, dan desa mulai gelap. Lintang dan Raka bersiap
dengan senter, teropong, dan buku catatan mereka. Langit Trenggalek malam itu
jernih, dan bintang-bintang tampak lebih terang dari sebelumnya. Mereka
berjalan melewati jalan setapak yang familiar, tapi Lintang merasakan sensasi
berbeda adrenalin, rasa
takut yang ringan, dan kebahagiaan yang tak bisa dijelaskan.
Sesampainya di puncak bukit, Lintang menatap langit dengan takjub.
Ribuan bintang memenuhi langit, membentuk pola yang ia belum pernah lihat
sebelumnya. Raka mulai menandai konstelasi dengan buku catatannya, sementara
Lintang duduk di sampingnya, menulis dengan penuh semangat. Ia menulis semua
yang ia rasakan: keindahan, rasa kagum, dan tekad untuk mengejar mimpinya.
“Tadi malam aku hanya bisa melihat sebagian kecil bintang. Tapi
sekarang, aku merasa seperti bagian dari alam semesta ini,” kata Lintang lirih.
Raka menatap sahabatnya, tersenyum. “Lintang, kau memang berbeda. Kau punya
mata yang bisa melihat lebih dari sekadar yang orang lain lihat.” Kata-kata
Raka membuat hati Lintang hangat. Ia merasa dimengerti, diterima, dan diberi
semangat untuk terus maju.
Mereka berdua duduk berjam-jam, mencatat bintang demi bintang, dan
saling bertukar cerita. Lintang menceritakan mimpinya: ingin menulis buku
tentang bintang, ingin menjelajahi dunia, dan ingin suatu hari menginspirasi
anak-anak lain seperti ia terinspirasi malam ini. Raka mendengarkan dengan
serius, sesekali tersenyum, dan memberikan ide-ide yang membuat mimpinya
semakin terasa mungkin.
Tapi malam itu juga mengajarkan Lintang sesuatu yang penting:
keberanian bukan berarti tidak takut, tetapi tetap melangkah meski takut. Saat
mereka mendengar suara binatang malam di hutan dekat bukit, Lintang merasa
jantungnya berdebar. Tapi ia tetap diam, tetap mengamati langit, dan tetap
menulis catatannya. Malam itu, rasa takutnya berubah menjadi energi untuk
belajar lebih banyak dan berani menghadapi tantangan.
Saat pulang ke rumah, Lintang berjalan dengan langkah mantap. Ia
menatap langit malam yang mulai memudar ke gelap abu-abu, tapi hatinya masih
berbinar. Ia tahu bahwa malam ini bukan sekadar tentang bintang, tetapi tentang
dirinya sendiri—tentang keberanian, tentang persahabatan, dan tentang mimpi
yang mulai tumbuh.
Sesampainya di rumah, ia mencuci tangan dan duduk di meja
belajarnya. Buku catatan dan pensil sudah siap di meja, dan Lintang menulis
kata-kata terakhir sebelum tidur: “Aku Lintang, gadis kecil dari Trenggalek. Aku
akan mengejar mimpiku, setinggi bintang-bintang itu. Aku percaya, suatu hari,
aku bisa menggapainya.”
Dengan senyum tipis, Lintang menutup matanya. Suara angin malam
dari jendela menenangkan hatinya. Ia tahu, besok akan ada tantangan baru,
pelajaran baru, dan pengalaman baru. Tapi malam ini, ia sudah memulai
perjalanan yang akan mengubah hidupnya selamanya. Gadis kecil bernama Lintang
telah menapak langkah pertama menuju mimpinya—menggapai bintang di langit
Trenggalek.
____________________
|
Penulis |
: |
Machrup Eko Cahyono |
|
Editor |
: |
Machrup Eko Cahyono |
Post a Comment for "Menggapai Bintang di Langit Trenggalek - Bab 2"