Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Menggapai Bintang di Langit Trenggalek - Bab 1

Menggapai Bintang di Langit Trenggalek

Bab 1 – Matahari Terbit di Trenggalek

Langit Trenggalek mulai memerah lembut ketika Lintang membuka matanya. Sinar pertama pagi menembus jendela kayu rumah panggungnya, menari di atas lantai yang masih lembap oleh embun malam. Suara ayam berkokok dari halaman tetangga terdengar bergantian dengan desir angin yang menyejukkan. Pagi ini terasa berbeda. Ada sesuatu yang membangkitkan semangat Lintang, meski dia sendiri belum tahu apa itu.

Dia menarik selimut tipis yang membungkus tubuhnya, lalu menatap langit dari jendela. Hutan hijau di kejauhan seakan memeluk desa dengan hangat, dan bukit-bukit kecil yang menjadi ciri khas Trenggalek berkilau di bawah sinar matahari pagi. “Hari ini, aku akan melakukan sesuatu yang berbeda,” gumamnya dalam hati, sambil tersenyum tipis.


Lintang adalah seorang gadis berusia empat belas tahun, dengan mata yang selalu berbinar penuh rasa ingin tahu. Rambut hitamnya yang panjang sering ia kepang saat berangkat sekolah, dan pipinya selalu merona setiap kali ia bersemangat. Namun, di balik senyum itu, ada rasa ragu yang kadang menghantui. Di sekolah, Lintang dikenal pintar, tapi pendiam, dan sering merasa sulit untuk bersosialisasi.

Setelah menyiapkan sarapan sederhana nasi hangat dengan sayur bening buatan ibunya, Lintang bergegas menuju sekolah. Jalanan desa masih sepi, hanya beberapa pedagang yang mulai membuka warung, aroma kopi dan gorengan menyambut pagi. Ia menyapa beberapa tetangga yang ditemuinya di jalan, tapi senyum Lintang terasa agak malu-malu.

Sesampainya di sekolah, Lintang langsung bertemu dengan teman dekatnya, Raka, seorang anak laki-laki yang selalu ceria dan penuh ide. “Pagi, Lintang! Hari ini aku bawa sesuatu yang seru!” seru Raka dengan antusias, menenteng buku tebal di tangannya. Lintang penasaran. “Seru apa, Rak?” tanyanya sambil tersenyum tipis.

Raka menunduk, membuka buku itu, dan menunjuk gambar peta langit malam yang penuh bintang. “Lihat! Aku ingin kita coba meneliti bintang-bintang malam ini. Katanya, di Trenggalek, langit malam bisa terlihat sangat jelas jika kita naik ke bukit Panggul.” Lintang menatap gambar itu, hatinya berdebar-debar. Mimpi melihat bintang-bintang dari dekat selalu ada di benaknya, tapi ia belum pernah benar-benar memulai.

Pelajaran pagi berlalu dengan cepat. Guru-guru di kelas memberi materi seperti biasa, tapi pikiran Lintang melayang ke bukit dan langit yang berkilau itu. Ia merasa seperti ada magnet yang menariknya ke luar sekolah, ke petualangan yang belum pernah ia alami.

Saat istirahat, Lintang duduk di bawah pohon trembesi besar di halaman sekolah. Daun-daun bergoyang lembut ditiup angin pagi. Raka duduk di sampingnya. “Ayo, malam ini kita pergi. Kita bawa teropongku, dan aku sudah menyiapkan catatan untuk mencatat bintang-bintang yang kita lihat.” Lintang menelan ludah. Ia merasa takut dan bersemangat sekaligus. “Tapi, bukankah malam ini ada latihan tambahan di sekolah?” tanyanya ragu. Raka tersenyum. “Santai, aku sudah bicara dengan guru. Mereka bilang kita boleh pergi, asal pulang sebelum larut.”

Lintang mengangguk, hatinya bergetar. Sesuatu di dalam dirinya mengatakan bahwa malam ini akan menjadi awal dari perjalanan besar. Bukan hanya melihat bintang, tapi juga menumbuhkan keberanian yang selama ini ia sembunyikan.

Sepulang sekolah, suasana desa berbeda dengan pagi tadi. Matahari mulai condong ke barat, menciptakan bayangan panjang di sepanjang jalan beraspal dan rumah-rumah panggung. Lintang dan Raka berjalan beriringan, berbicara tentang rencana mereka. Lintang masih merasa gugup, tapi rasa penasaran mengalahkan ketakutannya.

Sebelum menaiki bukit Panggul, mereka berhenti di warung kecil milik Pak Darto, tetangga yang selalu ramah. “Ah, Lintang, Raka! Mau kemana sore-sore begini?” tanya Pak Darto sambil tersenyum. “Kami ingin naik bukit, Pak, lihat bintang malam,” jawab Raka cepat. Pak Darto menggeleng-gelengkan kepala, lalu tersenyum hangat. “Hati-hati ya, jalannya licin kalau malam. Jangan terlalu lama di atas, takut kehujanan.” Lintang dan Raka mengangguk. Kata-kata Pak Darto menambah rasa berani sekaligus waspada dalam hati Lintang.

Perjalanan mendaki bukit dimulai. Suara langkah mereka menyatu dengan gemerisik daun dan suara burung yang pulang ke sarangnya. Udara semakin dingin, tapi Lintang merasa segar. Setiap langkah membuatnya merasa lebih hidup, seolah setiap detik mendekatkannya pada mimpinya. Raka sesekali menunjuk ke langit, menunjukkan posisi bintang-bintang yang ia pelajari dari buku. Lintang menatap langit dengan takjub. Ia tidak pernah menyangka betapa luas dan indahnya alam semesta di atas kepala mereka.

Sesampainya di puncak bukit, mereka duduk di atas batu besar, membawa teropong dan buku catatan. Langit malam sudah penuh dengan bintang. Lintang menahan napas, matanya berbinar-binar. Ada Orion, ada Venus, dan ribuan bintang yang berkelap-kelip seperti permata. “Indah sekali,” bisiknya, hampir tak percaya. Raka tersenyum, menepuk bahunya. “Aku tahu kau akan suka. Ini baru awal, Lintang. Masih banyak bintang yang bisa kita temukan.”

Mereka mulai mencatat bintang demi bintang, mencoba mengidentifikasi konstelasi dan planet yang terlihat. Lintang merasa seperti terhubung dengan sesuatu yang lebih besar dari dirinya yaitu alam semesta yang tak terbatas, penuh kemungkinan dan mimpi yang menunggu untuk digapai. Dalam hati, ia berjanji pada dirinya sendiri: suatu hari, ia ingin menulis buku tentang bintang dan mimpi, membagikan keindahan ini kepada orang lain, seperti yang Raka bagikan malam ini.

Namun, malam itu juga menghadirkan sedikit ketegangan. Saat mereka terlalu asyik memandangi langit, terdengar suara ranting patah di belakang semak. Lintang menoleh, jantungnya berdegup kencang. Raka dengan cepat menyalakan senter, menyinari area sekitar. Ternyata hanya seekor kucing hutan yang sedang mencari makan. Lintang tertawa lega, tapi ia sadar bahwa keberanian bukan berarti tidak takut, tapi tetap maju meski takut.

Malam semakin larut. Mereka menatap langit, merasa kecil tapi terinspirasi. Lintang menulis di buku catatannya: “Bintang-bintang ini terlihat jauh, tapi mereka membuatku ingin terbang lebih tinggi, mengejar mimpiku. Aku ingin suatu hari, aku bisa menggapai bintang-bintang itu, dalam caraku sendiri.”

Saat pulang ke rumah, langit Trenggalek mulai memudar ke abu-abu gelap, digantikan cahaya lampu desa yang mulai menyala. Lintang merasa hangat di dalam hati. Malam ini, bukan hanya tentang bintang, tapi tentang keberanian, persahabatan, dan mimpi yang baru mulai tumbuh. Ia tahu, perjalanan ini baru permulaan, dan setiap matahari terbit di Trenggalek akan mengingatkannya bahwa hari baru membawa harapan baru.

Sesampainya di rumah, Lintang menutup matanya, membiarkan kenangan malam itu berputar di pikirannya. Senyum tipis masih menempel di wajahnya. Ia tahu, besok akan ada tantangan baru, tapi malam ini, ia sudah merasakan satu hal yang paling penting: bahwa mimpinya bukanlah sesuatu yang terlalu jauh, asalkan ia berani memulai langkah pertama.

____________________

Penulis

:

Machrup Eko Cahyono

Editor

:

Machrup Eko Cahyono


Post a Comment for "Menggapai Bintang di Langit Trenggalek - Bab 1"